Model-model pembelajaran area PAUD

Model-model Pembelajaran PAUD (2)

Pada postingan yang lalu sudah dibahas 2 model pembelajaran yang biasa digunakan di PAUD. Nah pada kesempatan ini akan dibahas mengenai model pembelajaran lain yang juga sering dipakai dalam pembelajaran PAUD.
3. MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN SUDUT KEGIATAN
Model pembelajaran ini menyediakan sudut-sudut kegiatan yang menjadi pusat kegiatan pembelajaran berdasarkan minat anak. Alat-alat yang disediakan harus bervariasi mengingat minat anak yang beragam. Alat-alat tersebut juga harus sering diganti disesuaikan dengan tema dan subtema yang dibahas. Adapun strategi yang dapat dilakukan dalam mengembangkan model pembelajaran berdasarkat sudut kegiatan ini adalah sebagai berikut :
a. Pengelolaan Kelas
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas pada model pembelajaran berdasarkan Sudut-sudut Kegiatan adalah :
·  Pengaturan alat bermain dan perabot ruangan, termasuk meja, kursi, dan luasnya ruangan, disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan, khusunya pada sudut-sudut kegiatan.
·   Sumber belajar dan hasil kegiatan anak dapat dipajang dipapan atau dinding ruangan. Hasil karya anak, dapat juga disimpan di laci masing-masing anak sebagai portofolio.
· Setelah digunakan untuk pembelajaran, alat bermain dirapikan dan disimpan sedemikian rupa sehingga dapat melatih anak untuk pembiasaan yang ingin dicapai seperti kemadirian, tanggung jawab, membuat keputusan, kebiasaan mengatur kembali peralatan dan sebagainya.
b. Langkah-langkah Kegiatan
1)  Kegiatan Awal (± 30 menit).
Kegiatan yang dilaksanakan adalah bernyanyi, berdo`a, mengucapkan salam, membicarakan tema/sub tema, diskusi kegiatan yang akan dilaksanakan, melakukan kegiatan fisik/motorik.
2)  Kegiatan Inti ((± 60 menit) secara individual disudut-sudut kegiatan.
Sebelum melaksanakan kegiatan inti, guru bersama anak membicarakan tugas-tugas yang diprogramkan di sudut-sudut kegiatan. Setelah itu guru menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan disetiap sudut kegiatan yang diprogramkan. Sudut yang dibuka setiap hari di sesuaikan dengan indicator yang dikembangkan dan sarana/alat pembelajaran yang ada. Kemudian anak dibebaskan untuk memilih sudut kegiatan yang disukai sesuai dengan minatnya. Anak dapat berpindah sudut kegiatan sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh guru.
3) Istirahat/Makan ((± 30 menit)
Kegiatan makan bersama menanamkan pembiasaan yang baik, misalnya mencuci tangan, berdo`a sebelu dan sesudah makan, tata tertib makan, mengenalkan jenis makanan, menumbuhkan rasa sosial dan kerjasama, membereskan dan merapikan alat-alat makan dan sebagainya.
4) Kegiatan Akhir ((± 30 menit)
Kegiatan akhir dilaksanakan secara klasikal, misalnya dengan bercerita, bernyanyi, gotong royong membersihkan kelas, diskusi kegiatan sehariyang telah dilakukan, informasi kegiatan esok hari, berdo`a, dan mengucapkan salam.
c.  Penilaian
Penilaian yang dilakukan pada model pembelajaran ini sama dengan penilaian pada model pembelajaran kelompok dengan Kegiatan Pengaman, yaitu selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru mencatat segala hal yang terjadi baik terhadap perkembangan peserta didik maupun program kegiatan sebagai dasar bagi keperluan penialian.
4. MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN AREA(MINAT)
Model ini pada dasarnya hampir sama dengan model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan. Model ini lebih memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajarannya dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak dan menghormati keberagaman budaya. Kecuali itu juga menekankan pada pengalaman belajar bagi setiap anak, pilihan-pilihan kegiatan dan pusat-pusat kegiatan serta peran serta keluarga dalam proses pembelajaran.
Model ini merupakan pendekatan yang sangat efektif yang dikembangkan dalam pembelajaran secara individu. Pendekatan ini sangat membantu anak dalam mengumpulkan benda-benda yang telah disusun disekitar satu atau lebih dimana anak dapat berinteraksi dengan media tersebut. Dengan demikian kemampuan anak dalam belajar lebih optimal, anak lebih sibuk bergerak melakukan atau aktif belajar yang telah dipilihnya. Dengan system area ini pengalaman belajar anak lebih banyak dan anak lebih kreatif.
Mengapa menggunakan “ Sistem Area “?
     Setiap anak yang dilahirkan adalah unik dan punya banyak perbedaan, satu dengan yang lain tidak akan sama. Oleh karenanya muncullah pendekatan pembelajaran dengan menggunakan system area sebagai antisipasi terhadap perbedaan cara belajar, motivasi, kemampuan dan minat anak. Sehingga anak dapat membuat kesimpulan sendiri dari setiap hal yang dipelajarinya.
     Sistem Area ini menuntut guru lebih kreatif dalam memilih kegiatan dan mengkonstruksi area yang atraktif. Guru adalah fasilitator, anak yang kurang mampu harus dimotivasi dan yang lebih diberi kegiatan yang lebih memacu semangat belajar. Ada beberapa kegiatan yang bisa dipilih anak untuk area ini :
1.Permainan dalam bentuk board.
2. Kartu perintah
3. Permainan kartu
4. Benda-benda tiruan
5.Tape dan rekaman
6.Aktivitas seni (panggung boneka)
7. Puzlle
Macam – macam “ Area “ :
1. Area Pasir dan Air
2. Area Drama
3. Area Membaca dan Menulis
4. Area Bahasa
5. Area IPA / Sains
6. Area Musik
7. Area Agama / Ibadah
8. Area Balok
9. Area Matematika
10. Area Seni, Motorik Halus.
Langkah-langkah menyusun kegiatan model pembelajaran berdasarkan minat.
a.    Kegiatan awal + 30 menit (klasikal)
  • Berbaris, berdoa, salam
  • Bercerita tentang pengalaman (3-4 anak) setiap hari dan setiap satu anak bercerita, 3 atau 4 anak bertanya tentang cerita anak tersebut
  • Membicarakan tema / sub tema
  • Melakukan kegiatan fisik / motorik, dapat dilakukan diluar atau didalam kelas
b.  KegiatanInti + 60 menit (individual di Area)
  • Sebelum melaksanakan kegiatan inti, guru membicarakan tugas-tugas di area yang diprogramkan pada hari itu.
  • Area yang dibuka setiap hari minimal 4 – 5 sesuai indikator yang akan dicapai / dikembangkan
  • Guru menjelaskan kegiatan-kegiatan didalam area yang diprogramkan, misalnya :
Area
Kegiatan
Area Berhitung/ Matematika
1.    Pemberian tugas membilang
2.    Menyebut urutan bilangan 1 – 5
Area Seni / Motorik
Menggambar bebas dengan krayon
Area  IPA
Eksperimen membuat air teh manis
Area Balok
Menciptakan satu bangunan dari balok
  • Anak dibebaskan memilih area mana yang disukai walaupun area itu tidak dibuka sesuai program guru
  • Anak dapat pindah sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh guru
  • Apabila anak tidak mau melakukan kegiatan di 4 – 5 area yang diprogramkan, guru diharuskan memotivasi anak tersebut agar mau melakukan kegiatan
  • Guru  dapat melayani anak dengan membawakan tugasnya ke area yang sedang diminati
  • Guru dapat memberikan penilaian dengan memakai alat penilaian yang telah ditentukan
  • Guru membagi jumlah anak dikelas ke masing-masing area yang diprogramkan (misal : 4 – 5 Area)
  • Bagi kegiatan yang memerlukan pemahaman atau membahayakan, dan pengamatan langsung, maka jumlah anak dibatasi agar guru dapat memperhatikan lebih mendalam proses dan hasil yang dicapai dapat lebih maksimal tanpa mengabaikan anak yang ada di area lain.
  • Orangtua / keluarga dapat dilibatkan untuk berpartisipasi membantu guru pada waktu kegiatan pembelajaran
  • Orangtua / keluarga dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan anak.
c.  Istirahat (sama dengan model kelompok)
d.  Kegiatan akhir + 30 menit (klasikal)
·       Bertepuk tangan dengan 2 pola (seni)
·       Diskusi tentang kegiatan satu hari
·       Bercerita dari guru
·        Menyanyi, doa, pulang.
e. Penilaian :
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung guru hendaknya mencatat segala hal yang terjadi baik terhadap program kegiatannya maupun terhadap perkembangan peserta didik sesuai dengan indikator dan alat penilaian yang telah ditetapkan .
Catatan
1.  Area pasir dan air diletakkan didekat pintu agar kalau air tumpah atau pasir tercecer mudah dibersihkan dan tidak tercecer keseluruh ruang
2. Area balok dan area matematika diletakkan berdekatan agar peralatan di area balok dapat dipinjam dan dimanfaatkan oleh anak didik di area matematika
3. Tempat pertemuan pagi bisa diletakkan di tengah jika ruang kelas sedang (tidak luas). Jika ruang kelas cukup luas pertemuan pagi diletakkan di tepi supaya anak bisa konsentrasi.
4. Area seni, motorik diberi ruang yang cukup luas agar anak bisa beraktivitas cukup leluasa dalam mengembangkan motorik halusnya.
(bersambung …)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s